Kamis, 24 Oktober 2013

Perjuangan Meninggalkan Musik dan Memakai Jilbab | Bersama Dakwah

Perjuangan Meninggalkan Musik dan Memakai Jilbab | Bersama Dakwah



Tahun 1995 adalah tahun yang bersejarah dalam kehidupanku. Tahun di mana ada setitik cahaya menembus hatiku sehingga aku berhasil memenangkan pergulatan hebat di dalam hatiku. Bagaimana tidak? Dahulu aku seorang pecinta musik, lebih khususnya aku penggemar berat seorang artis sehingga hari-hariku diwarnai dengan musik. Tiada hari tanpa musik itulah falsafah hidupku dulu.

Namun suatu hari, karena penasaran dengan isi majalah ANNIDA punya teman kakakku, aku pun mulai membuka-buka majalah tersebut. Tidak ada yang menarik bagiku karena aku bukan penggemar cerpen. Namun tiba-tiba aku membaca sebuah judul artikel yang berbunyi: “Rame-Rame Ganyang Musik” (itu judul seingatku). “Dug.” Jantungku berdetak. Dengan perlahan-lahan aku membaca artikel tersebut yang ternyata berisi tentang pandangan Islam terhadap musik. Hatiku berontak. Aku tidak percaya dengan isi artikel tersebut. Beberapa hari aku tidak bisa tidur karena memikirkannya. Tiba-tiba ada ide untuk mengcopy majalah tersebut sebelum dikembalikan ke pemiliknya. 

Setelah beberapa hari mengalami pergulatan batin, akhirnya aku pun berdoa, "Ya Allah, jika benar ini adalah ajaran-Mu maka hamba akan mematuhinya. Tapi hamba butuh waktu. Biarkanlah hamba meninggalkan musik secara bertahap.”

Keesokan harinya aku memperlihatkan fotocopy artikel tersebut kepada teman-temanku yang satu geng denganku. Mereka semua tidak percaya dan berontak sebagaimana diriku. Namun hal itu tidak mengurangi semangatku untuk meninggalkan musik. Aku katakan kepada teman-temanku, “Insya Allah nanti kalau sudah SMA aku mau pakai jilbab.”

Beberapa bulan kemudian tibalah hari ulang tahunku. Memang tidak ada yang istimewa di hari ulang tahunku karena aku hampir tidak pernah merayakannya. Tapi tiba-tiba teman satu gengku memberikan kado kepadaku. Dan setelah aku buka ternyata isinya sebuah kerudung berwarna putih. Aku sangat terharu. Walau mereka tidak sejalan lagi denganku tapi mereka tetap berempati kepadaku. Aku cuma bisa berdo’a semoga suatu saat nanti mereka juga akan mendapatkan setitik cahaya untuk menjadi muslimah yang sempurna.

Kini mulailah masa bagiku untuk berjuang meninggalkan musik dan memakai jilbab. Butuh waktu kurang lebih lima tahun untuk meninggalkan musik. Aku meninggalkan musik dengan cara bertahap mulai tidak mendatangi konser, kemudian tidak membeli kaset lagi, mengurangi durasi mendengarkan musik, dan lain sebagainya hingga akhirnya aku benar-benar bisa meninggalkan musik. Untunglah ada nasyid sehingga aku bisa mencari hiburan lainnya. Tapi akhirnya aku juga meninggalkan nasyid setelah mendengar ceramah dari seorang ustadz: “Mengapa Antum lebih suka mendengarkan nasyid dari pada mendengarkan kalam Allah?.” Dug bergetar hati ini. Segera aku tinggalkan nasyid dan sibuk dengan menghafalkan ayat-ayat suci al Qur’an. Ternyata mendengarkan atau melantunkan ayat-ayat suci al Qur’an itu lebih nikmat dari pada mendengarkan musik atau pun nasyid. 

Sedangkan perjuanganku memakai jilbab tidaklah mudah karena tidak ada dukungan dari orang-orang di sekitarku. Aku berjuang sendiri memakai jilbab. Sesuai dengan janjiku aku memakai jilbab mulai kelas satu SMA. Saat itu modalku hanya baju seragam panjang dan tiga potong busana muslimah. Kadang malu juga baju yang kupakai itu-itu saja. Pernah kejadian ada kerabat yang meninggal dunia lalu beberapa bajunya diberikan kepadaku. Karena bajunya panjang maka kujadikan busana muslimah. Namun suatu hari ketika memakai baju tersebut ada orang yang bilang, “Kok, pakai baju PKK.” Duh, malunya. Selidik punya selidik ternyata baju yang kupakai adalah baju seragam PKK di kampung kerabatku yang meninggal itu.

Di sekolahan yang memakai jilbab cuma sedikit. Maklumlah sekolahanku negeri dan jumlah antara siswa muslim dengan non muslim hampir berimbang. Untuk kelas satu saja yang memakai jilbab cuma dua orang yaitu aku dan temanku.

Seiring dengan prosesku memakai jilbab, aku pun mulai rajin mengaji. Di sekolahanku ada kajian Nisa’ tiap jum’at. Aku pun rajin mengikutinya. Dan ternyata hal ini membuatku terpilih sebagai Kabid Nisa’. Aku berusaha menolaknya karena aku tidak pandai bicara di depan umum dan aku pun tidak faham organisasi. Namun karena terpaksa (tidak bisa menolak) dan ada semangat baru untuk berdakwah (berbagi-bagi hidayah) akhirnya aku terima juga jabatan tersebut.

Mulailah babak baru menjadi Kabid Nisa’. Aku beranikan diri berbicara di depan umum. Awalnya gugup dan kaku tapi lama-lama jadi biasa juga. Yah, semangat dakwah itu mengalahkan segala keterbatasan yang ada. 

Selain tetap mengadakan kajian Nisa’ tiap jum’at, aku juga mengadakan kajian khusus dalam kelompok-kelompok kecil. Senang rasanya bisa membina teman-teman dan juga adik kelas. Lebih senang lagi jika melihat mereka ikut memakai jilbab. Bahkan ada juga yang ibunya juga ikut memakai jilbab. Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri ketika kita mampu menjadi sarana bagi terbukanya pintu hidayah bagi orang lain. Semoga kita tetap istiqomah dalam barisan orang-orang yang berdakwah di jalan Allah SWT. Amiin.[]

Penulis : Yuni Isnaini Barokah
Surakarta, Jawa Tengah

Copas dari :
Perjuangan Meninggalkan Musik dan Memakai Jilbab | Bersama Dakwah

Sabtu, 12 Oktober 2013

12 TIPS SEORANG IBU UNTUK SI PEMIMPIN KECIL | Nutrisi Untuk Bangsa

12 TIPS SEORANG IBU UNTUK SI PEMIMPIN KECIL | Nutrisi Untuk Bangsa

Oleh : Yuni Isnaini Barokah



Memiliki anak adalah anugerah terindah bagi setiap pasangan suami istri. Betapa banyak pasangan suami istri yang bersedih karena sudah lama menikah namun belum juga dikaruniai seorang anak. Pada hal berbagai usaha telah mereka lakukan mulai dari konsultasi kedokter, mengadopsi anak sebagai pancingan, hingga yang paling mahal membuat program bayi tabung. Karena itu, tidaklah bijak jika kita menyia-nyiakan anak yang kita miliki. Ingat, anak adalah amanah dari Allah!
            Alhamdulillaah, saya termasuk orang yang beruntung dan berbahagia karena dikaruniai dua orang anak yang tampan dan cantik. Yasir (3th)  dan Yasmin (1,5th) namanya. Keduanya terpaut satu setengah tahun. Satu keyakinan saya bahwa suatu saat nanti kedua buah hati saya akan menjadi pemimpin baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang di sekitarnya. Untuk itu, saya berusaha sebaik mungkin dalam merawat dan mendidik mereka. Paling tidak ada dua belas langkah yang biasa saya lakukan dalam merawat dan mendidik mereka, yaitu :
  1. 1.      Optimalisasi do’a.
Do’a merupakan senjata utama bagi seorang ibu dalam mendidik anak-anak. Saya sering teringat dengan lirik lagu Rhoma Irama yang berjudul “Keramat” : …………Do’a ibumu dikabulkan Tuhan, dan kutukannya jadi kenyataan…… Dan memang itulah janji Allah.
Saya selalu berdo’a untuk anak-anak saya setiap saat, setiap waktu, dan setiap kesempatan. Saat selesai shalat, saat menyusui, saat menatap mereka, saat mengusap kepala mereka, dan saat menjelang tidur saya berdo’a untuk mereka: “….Ya Allah, jadikanlah kedua anak hamba ini anak-anak yang shalih shalihah……Amiin”.  Bahkan saat sebelum saya menikah atau sudah menikah tapi belum hamil saya juga berdo’a: “….Ya Allah, berkahilah rahim hamba-Mu ini. Jangan Engkau biarkan satu orang anak pun yang keluar dari rahim hamba ini kecuali menjadi anak  yang shalih shalihah…..Amiin”.
Ketika anak sulit diatur pun saya kembali berdo’a agar dipermudah dalam mengurus anak. Ada keajaiban dibalik do’a seorang ibu terhadap anaknya. Dan itulah yang saya yakini dan rasakan selama ini.
Dulu saya hampir pernah putus asa saat mengerjakan skripsi karena sudah beberapa bulan tidak kelar-kelar juga. Apalagi saat itu kondisi ekonomi keluarga sedang goyang dan ibu sedang sakit strocke sehingga membutuhkan perawatan khusus. Tapi tiba-tiba pada saat musim haji tiba, ibu menyuruh saya untuk mengantarkan sepucuk surat kepada tetangga saya yang hendak naik haji. Karena penasaran maka saya membuka surat tersebut ternyata isinya permohonan ibu agar tetangga saya mendo’akan beberapa keinginan ibu pas sampai di tanah suci nanti. Dan salah satu keinginan ibu adalah ibu ingin saya segera wisuda. Tak terasa air mata saya berlinang. Saya pun segera menyelesaiakan kembali skripsi saya. Dan anehnya dalam waktu sekitar satu pekan skripsi saya di-acc atau disetujui oleh semua dosen pembimbing saya dan langsung bisa pendadaran (ujian skripsi). Dari sinilah saya semakin yakin akan pentingnya do’a dan restu seorang ibu kepada anaknya. “Do’a dan restu ibu akan mempermudah jalan bagi sang anak”.

  1. 2.      Memberikan nutrisi yang terbaik.
Sebagai bentuk kepeduliaan terhadap anak, saya berusaha memberikan nutrisi yang terbaik untuk mereka baik saat mereka masih dalam kandungan maupun setelah lahir.
Saat masih dalam kandungan atau dengan kata lain saat saya masih hamil saya berusaha makan makanan yang bergizi. Selain itu saya rajin minum susu ibu hamil (Lactamil) dan mengkonsumsi semua vitamin yang diberikan oleh dokter.
Setelah anak saya lahir saya juga berusaha memberikan nutrisi yang terbaik  yaitu Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif selama enam bulan. Ya, walau dengan penuh perjuangan karena ASI saya tergolong pas-pasan. Untunglah ada Lactamil untuk ibu menyusui yang mengandung sari daun katup yang berfungsi memperlancar ASI.
ASI  Eksklusif sangat penting bagi bayi karena merupakan gizi seimbang bagi bayi.  Di dalam setiap tetes ASI mengandung karotenoid dan selenium, sehingga ASI ini akan berperan banyak dalam sistem pertahanan tubuh bayi untuk mencegah berbagai penyakit. ASI Eksklusif berarti seorang ibu harus memberikan ASI kepada sang bayi tanpa menambah makanan lain, bahkan air putih sekalipun.
Setelah program ASI eksklusif selesai saya tetap berusaha menyusui dan mulai memberikan makanan tambahan yang mengandung kriteria empat sehat lima sempurna. Khusus masalah pemberian susu, selain saya berikan ASI saya juga memberikan tambahan susu formula yaitu SGM Eksplor.

  1. 3.      Merawat dan mendidik dengan penuh cinta kasih.
Menurut kamus umum bahasa Indonesia, cinta memiliki arti berupa rasa sangat suka kepada ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kasih memiliki arti berupa perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian arti cinta kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih dapat memperkuat rasa cinta.
            Dalam merawat dan mendidik anak hendaklah dilandasi rasa cinta dan kasih sayang sehingga dengan demikian akan timbul kontak batin antara seorang ibu dengan sang anak. Ibu akan lebih mudah dalam mendidik dan mengarahkan sang anak. Salah satu bentuk konkrit cinta kasih yang saya lakukan adalah sering memeluk anak terutama ketika sedang menangis karena pelukan akan memberikan ketenangan jiwa pada sang anak.

  1. 4.      Membiasakan anak berperilaku baik.
Kebiasaan-kebiasaan baik hendaklah ditanamkan sejak kecil agar bisa melekat hingga anak dewasa. Beberapa kebiasaan baik yang selalu saya tanamkan kepada anak-anak adalah:
  1. a.      Minta maaf bila bersalah dan memaafkan kesalahan orang lain.
Contoh keseharian: Jika anak saya ada yang berbuat salah maka saya segera menyuruhnya minta maaf dengan lisan dan berjabat tangan.
  1. b.      Berbagi dengan saudara dan teman.
Sebenarnya secara tidak langsung saya sudah mengajarkan kepada kedua anak saya untuk berbagi sejak dalam kandungan. Ketika saya hamil anak kedua, usia anak pertama saya baru sepuluh bulan dan masih menyusu. Karena kasihan maka meskipun hamil saya tetap menyusui anak pertama sampai anak kedua lahir. Bahkan setelah anak kedua lahir saya tetap menyusui anak pertama. Jadi saya menyusui dua anak sekaligus hingga anak pertama usia dua tahun kurang dua bulan baru saya sapih. Anak kedua sampai sekarang masih menyusu.
Contoh keseharian : saya selalu mengajarkan anak-anak berbagi makanan ataupun mainan kepada saudara atau teman-temannya.
  1. c.       Disiplin dan bertanggung jawab.
Contoh keseharian : saya menyuruh anak-anak membuang sampah di tempat sampah, BAB dan BAK di kamar mandi/WC.
  1. d.      Mengucap salam dan minta izin.
Contoh keseharian : Ketika masuk rumah saya biasakan anak-anak mengucap salam, bila pergi berpamitan, dan jika mau pinjam mainan teman atau saudara saya suruh minta izin terlebih dahulu.
      Beberapa perilaku baik tersebut perlu kita tanamkan sejak kecil karena merupakan modal utama dalam memimpin dan bergaul dengan masyarakat nanti.

  1. 5.      Mengawasi anak saat bermain dengan saudara dan teman-temannya.
Mengingat sifat dasar anak-anak adalah egois, suka meniru, dan belum bisa berfikir serta membedakan mana yang baik dan benar maka saya selalu mengawasi anak-anak ketika bermain sehingga bisa mengontrol perilaku mereka. Apalagi anak-anak suka bertengkar maka peran kita sebagai penengah.

  1. 6.      Memberikan pendidikan dan sarana pendidikan yang memadai.
Pendidikan adalah hak anak yang harus dipenuhi. Pendidikan yang utama adalah pendidikan agama karena menjadi benteng yang kuat dalam bergaul, bersikap, dan berperilaku sehari-hari.
Dalam rangka memenuhi hak anak dalam bidang pendidikan ini, maka mas Yasir saya masukkan ke playgroup yang berbasis agama. Rencananya tahun depan Yasmin juga akan saya masukkan ke playgroup.
Adapun sarana pendidikan yang baru bisa saya sediakan adalah memberikan beberapa mainan edukatif dan menyediakan perpustakaan pribadi serta multimedia.

  1. 7.      Membimbing belajar.
Pada saat belajar di rumah, anak membutuhkan bimbingan belajar dari orang tuanya. Bimbingan belajar tidak hanya berkaitan dengan pelajaran yang didapat anak di sekolah tetapi lebih luas  yaitu  membimbing anak untuk bisa mandiri dan memahami kehidupan ini.
Agar seorang ibu mampu membimbing anaknya belajar maka seorang ibu harus cerdas, syukur-syukur punya pendidikan tinggi karena biasanya kecerdasan anak menurun dari ibunya.  “Ibu yang cerdas akan melahirkan anak yang cerdas pula. Ibu yang berpendidikan akan melahirkan anak yang berpendidikan pula.”

  1. 8.      Tegas dalam kelembutan.
Dalam menyikapi anak-anak membutuhkan ketegasan tapi dalam penyampaiannya tetap dalam kelembutan. Sebagai contoh, saya melarang anak-anak makan permen. Meskipun mereka menangis atau merengek-rengek minta dibelikan permen tetap tidak saya penuhi dan saya alihkan untuk membeli yang lain.

  1. 9.      Memberikan dukungan dan motivasi serta tidak memaksakan kehendak.
Agar anak dapat tampil percaya diri maka kita harus senantiasa memberikan dukungan dan motivasi. Dukungan atau motivasi dapat berupa tepuk tangan, hadiah, atau kata-kata positif. Sebagai contoh, jika anak berhasil menyelesaikan sesuatu dengan baik maka kita katakan “anak hebat”, “anak pintar”, dan lain sejenisnya. Namun jika gagal maka kita katakan “tidak apa-apa, dicoba lagi pasti bisa!”
Selain itu, kita tidak boleh memaksakan kehendak pada anak karena setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Perkembangannya pun juga berbeda-beda. Boleh saja kita punya rencana atau target tertentu pada anak namun kita tidak boleh memaksanya. Kita hanya boleh mengarahkan dan memotivasi agar anak bisa memenuhi target atau rencana yang kita buat.

  1. 10.  Tidak menghardik atau mengucapkan kata-kata negatif.
Hardikan atau kata-kata negatif  hanya akan membuat anak menjadi pesimis, tidak percaya diri, tidak bisa berkembang, dan tentunya membuat anak sakit hati atau tertekan. Karena itu kita harus menghindari kata-kata negatif. Jangan sampai kita mengatakan “anak nakal” karena hanya akan membuat anak semakin nakal. Ingatlah, setiap ucapan itu mengandung do’a maka ucapkanlah yang baik-baik saja.

  1. 11.  Berusaha menahan marah dan menjauhi kekerasan fisik jika anak melakukan kesalahan.
Harus kita sadari bahwa anak memiliki karakter dasar egois, rasa ingin tahu tinggi, dan suka meniru. Karena itu jika anak tidak menurut atau banyak tingkah, maka kita tidak perlu marah-marah atau menggunakan kekerasan karena dapat menimbulkan trauma pada anak. Cukuplah kita mengarahkannya dengan baik.
Alhamdulillah, kata “mas Yasir pilih disayang atau dimarahi?” cukup efektif menghentikan tingkah polah mas Yasir yang dinilai tidak baik. Walau saya akui juga terkadang sempat juga marah atau mencubit pantat mas Yasir jika kelewat batas. Namun biasanya saya segera menyuruh mas Yasir minta maaf dan kemudian saya pun juga minta maaf .

  1. 12.  Memberikan keteladanan dan bersinergi dengan suami.
Mengingat karakter anak suka meniru, maka anak membutuhkan sosok teladan yang baik. Dan orang yang terdekat dengan anak adalah ayah dan ibunya. Karena itu ayah dan ibu harus mampu memberikan keteladanan yang baik kepada anak-anaknya. Antara Ayah dan Ibu harus kompak dalam memberikan keteladanan, membuat target, atau pun dalam hal cara mendidik anak sehingga anak tidak merasa bingung.
                        Itulah beberapa langkah saya dalam merawat dan mendidik buah hati yang biasa saya lakukan di rumah. Manusia boleh berencana namun Allah yang menentukan segalanya. Tugas kita hanya berdo’a dan berusaha sebaik mungkin. Semoga Allah memberkahi langkah-langkah kita. Amiin.
- See more at: http://nutrisiuntukbangsa.org/12-tips-seorang-ibu-untuk-si-pemimpin-kecil-2/#sthash.Ab72j8La.bgcmdLqG.dpuf

Copas dari :
12 TIPS SEORANG IBU UNTUK SI PEMIMPIN KECIL | Nutrisi Untuk Bangsa

REVIEW BUKU KE-1

REVIEW BUKU KE-1 Identitas Buku Judul Buku          : Membantu Anak Punya Ingatan Super Penerbit               : PT. Elex M...